Upaya Pemulihan Hutan Desa Sungai Besar melalui Metode ANR (Tropenbos Indonesia dan LPHD Sungai Besar)
FOREST RESTORATION


Hutan desa berperan penting dalam pengelolaan sumber daya alam berbasis masyarakat, namun sebagian kawasan di Desa Sungai Besar mengalami degradasi akibat kebakaran, penebangan liar, dan pembukaan lahan yang tidak terkendali. Untuk memulihkan ekosistem, Tropenbos Indonesia bersama LPHD Sungai Besar melaksanakan Pengkayaan Tanaman dengan metode Assisted Natural Regeneration (ANR), yang fokus pada pemulihan alami melalui perlindungan, pemeliharaan, dan penambahan jenis tanaman lokal. Kegiatan ini bertujuan mempercepat regenerasi vegetasi, meningkatkan tutupan lahan, menjaga keseimbangan ekosistem, serta mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan hutan desa yang berkelanjutan.
Ketapang, Kalimantan Barat — Memulihkan hutan yang terdegradasi bukan hanya tentang menanam pohon baru, tetapi juga memberikan kesempatan bagi alam untuk tumbuh kembali. Prinsip inilah yang diterapkan Tropenbos Indonesia bersama Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungai Besar melalui kegiatan pengkayaan tanaman dengan metode Assisted Natural Regeneration (ANR) atau regenerasi alami terbantu. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan kawasan Hutan Desa Sungai Besar yang mengalami degradasi akibat kebakaran, penebangan liar, dan pembukaan lahan yang tidak terkendali. Melalui pendekatan ANR, masyarakat tidak hanya melakukan penanaman jenis pohon lokal, tetapi juga melindungi dan memelihara anakan alami yang telah tumbuh di kawasan hutan. Pengkayaan tanaman dilaksanakan pada area seluas 4 hektare di kawasan Sungai Kepuluk. Lokasi ini memiliki karakteristik lahan yang relatif mudah tergenang air, sehingga pemilihan bibit disesuaikan dengan kondisi lingkungan setempat. Jenis tanaman lokal diprioritaskan karena memiliki kesesuaian dengan ekosistem alami di sekitar lokasi kegiatan.
400 Bibit Lokal untuk Mempercepat Pemulihan Hutan
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 400 bibit dari sembilan jenis tanaman lokal ditanam untuk memperkaya vegetasi di kawasan yang menjadi sasaran pemulihan. Jenis tanaman yang digunakan meliputi Gerunggang sebanyak 25 batang, Mentanang 50 batang, Bintangor 50 batang, Prepat 50 batang, Gelam Tikus 50 batang, Petai Belalang 50 batang, Pempasir 25 batang, Pulai 70 batang, dan Jangkang 30 batang. Penanaman dilakukan dengan jarak 10 x 10 meter untuk memberikan ruang tumbuh yang cukup bagi setiap tanaman. Penentuan jenis dan pola tanam tersebut menjadi bagian dari upaya menyesuaikan kegiatan restorasi dengan kondisi lahan serta karakteristik vegetasi setempat. Namun, upaya pemulihan tidak berhenti pada penanaman bibit. Tim restorasi LPHD Sungai Besar juga melakukan pemeliharaan terhadap anakan pohon yang tumbuh secara alami di sekitar lokasi pengkayaan. Anakan alami yang ditemukan dalam radius 5–10 meter dari tanaman yang ditanam menjadi perhatian untuk dilindungi dan difasilitasi pertumbuhannya.
Merawat Pertumbuhan Alami, Menjaga Keberlanjutan Hutan
Dalam pelaksanaannya, anakan alami yang dipilih untuk dipelihara harus memenuhi sejumlah kriteria, yaitu termasuk jenis prioritas ANR, tumbuh sehat, tidak terserang hama atau penyakit, serta memiliki tinggi kurang dari 1,5 meter. Kriteria tersebut digunakan untuk memastikan tanaman yang dipelihara memiliki kondisi yang mendukung pertumbuhan dan dapat dipantau secara berkala. Pemeliharaan dilakukan melalui beberapa tahapan. Anakan yang memenuhi kriteria terlebih dahulu diberi tanda, kemudian gulma di sekitarnya dibersihkan dalam radius satu meter untuk mengurangi persaingan dalam memperoleh unsur hara. Tim juga melakukan pengukuran tinggi, identifikasi jenis, serta pencatatan kondisi tanaman menggunakan Tally Sheet sebagai dokumentasi perkembangan vegetasi. Pendekatan ini memberikan perhatian tidak hanya pada bibit yang sengaja ditanam, tetapi juga pada potensi regenerasi yang telah berlangsung secara alami. Dengan melindungi anakan yang sudah tumbuh, proses pemulihan hutan dapat didukung melalui kombinasi penanaman dan pemeliharaan vegetasi yang tersedia di kawasan tersebut.
Gotong Royong Masyarakat untuk Hutan yang Lebih Lestari
Seluruh rangkaian kegiatan pengkayaan dan pemeliharaan ANR dilaksanakan secara gotong royong oleh tim restorasi LPHD Sungai Besar dengan pendampingan teknis dari fasilitator lapangan. Keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam memastikan kegiatan restorasi berjalan secara terorganisasi dan sesuai dengan kondisi lapangan. Partisipasi aktif LPHD juga menunjukkan bahwa masyarakat desa memiliki peran strategis dalam pemulihan dan perlindungan ekosistem hutan. Melalui keterlibatan langsung, masyarakat tidak hanya menjadi pelaksana kegiatan, tetapi juga turut membangun tanggung jawab bersama dalam menjaga kawasan Hutan Desa. Melalui pengkayaan tanaman dan pemeliharaan anakan alami di area seluas 4 hektare, Tropenbos Indonesia bersama LPHD Sungai Besar terus mendorong pemulihan vegetasi berbasis potensi lokal. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat regenerasi hutan, meningkatkan tutupan vegetasi, serta menjaga keanekaragaman hayati di kawasan Hutan Desa. Pada akhirnya, hutan yang lestari tidak hanya dibangun dari banyaknya pohon yang ditanam, tetapi juga dari komitmen untuk merawat setiap pertumbuhan yang ada. Melalui pendekatan ANR dan gotong royong masyarakat, proses pemulihan hutan Sungai Besar menjadi langkah nyata dalam menjaga ekosistem dan sumber daya alam untuk generasi mendatang.
Related Stories
Tropenbos Indonesia © 2026
Sustainable Community Based Forest Stewardship and Livelihood Improvement in Ketapang District by Tropenbos Indonesia empowers local communities to protect forests while enhancing sustainable livelihoods, creating a future rooted in resilience, prosperity, and environmental balance.
Reframe your inbox
Subscribe to our website and never miss an update about project.
We care about your data in our privacy policy.
