MSD Sawit Pangkalan Telok
SUSTAINABLE LIVELIHOOD


Implementasi MSD (Multi-Stakeholder Dialogue) Sawit merupakan upaya kolaboratif yang melibatkan pemerintah, perusahaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendorong tata kelola kelapa sawit yang berkelanjutan. Melalui ruang dialog ini, diharapkan lahir kesepahaman dan solusi bersama terkait pengelolaan lahan, perlindungan lingkungan, peningkatan produktivitas, serta kesejahteraan petani, sehingga praktik sawit dapat lebih adil, transparan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.
Proses Kegiatan :
Dalam rangka peningkatan kapasitas pekebun sawit mandiri, telah dilaksanakan Pelatihan Good Agriculture Practice (GAP) dalam budidaya kelapa sawit. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada pekebun mengenai praktik budidaya yang baik dan berkelanjutan, mulai dari pengelolaan lahan, pemeliharaan tanaman, hingga penerapan teknik panen yang sesuai standar. Dengan adanya pelatihan GAP, diharapkan para pekebun dapat meningkatkan produktivitas kebun sekaligus menjaga aspek lingkungan.
Selanjutnya dilakukan pendataan pekebun sawit mandiri untuk kebutuhan E-STDB (Sistem Informasi Peremajaan Sawit Rakyat). Pendataan ini menjadi langkah penting dalam mengidentifikasi dan memetakan pekebun sawit mandiri, baik terkait data kepemilikan lahan, luas areal tanam, maupun status legalitas lahan. Melalui sistem E-STDB, data yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar dalam perencanaan program, pengawasan, serta penguatan akses pekebun terhadap berbagai bentuk dukungan pemerintah maupun mitra pembangunan.
Sebagai tindak lanjut, diberikan pula fasilitasi bagi petani sawit mandiri melalui pendampingan teknis, penyediaan informasi, dan dukungan administrasi. Fasilitasi ini bertujuan untuk membantu pekebun mandiri dalam meningkatkan kapasitas usaha, memperkuat posisi kelembagaan pekebun, serta membuka akses terhadap sumber daya yang lebih luas, termasuk akses pembiayaan, sarana produksi, dan peluang kemitraan dengan pihak terkait. Secara keseluruhan, rangkaian kegiatan ini tidak hanya memperkuat aspek teknis budidaya sawit, tetapi juga mendorong peningkatan tata kelola perkebunan mandiri yang lebih produktif, berkelanjutan, dan memiliki daya saing tinggi.
Kendala dan Tantangan : -
Kesimpulan/Solusi Pemecahan :
PT KAL menyatakan kesiapan untuk bekerja sama dengan TI dalam memfasilitasi pendampingan petani sawit mandiri di Kecamatan Matan Hilir Selatan. Bentuk pendampingan yang ditawarkan mencakup pelatihan, pendampingan SPK melalui pembentukan asosiasi atau kelompok tani yang memiliki STDB, pemetaan lahan melalui polygon, pelatihan teknis, hingga dukungan GAP assessment bagi petani yang ingin memperoleh sertifikasi. PT KAL juga menegaskan bahwa tidak ada persyaratan jumlah minimal anggota dalam pembentukan asosiasi, selama lahan yang dikelola sudah clean and clear. Lebih lanjut, PT KAL berharap wilayah ring 2, termasuk Kecamatan Matan Hilir Selatan, dapat berperan sebagai pemasok TBS, sejalan dengan program responsible development yang dimiliki perusahaan melalui tim khusus untuk smallholders. Selain itu, perusahaan menargetkan agar petani asosiasi dapat memperoleh sertifikasi minimal ISPO, dengan ketentuan kapasitas pasokan minimal 100 ton tanpa batasan luas minimal lahan.
