green trees under white sky during daytime

Menghidupkan Kembali Hutan Pascakebakaran melalui Kolaborasi dan Agroforestry

FOREST RESTORATION

Irdan Muzakki

3/12/20262 min baca

Hutan desa memegang peran penting dalam menjaga ekosistem dan mendukung kehidupan masyarakat, namun di Desa Sungai Besar mengalami tekanan akibat pembukaan lahan dan kebakaran yang menyebabkan degradasi dan penurunan fungsi ekologis. Untuk mengembalikan kondisi ini, Tropenbos Indonesia bersama LPHD melaksanakan Restorasi Hutan Desa Sungai Besar melalui revegetasi tanaman lokal dan penguatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan hutan lestari, sekaligus mendukung keberlanjutan ekologi, peningkatan ekonomi desa, dan penguatan peran LPHD sebagai pengelola hutan desa.

Ketapang, Kalimantan Barat - Seluas 3 hektare lahan garapan masyarakat mulai dipulihkan melalui penanaman beragam jenis tanaman buah dan komoditas produktif untuk mendukung kelestarian hutan sekaligus membuka peluang ekonomi jangka panjang. Pemulihan hutan tidak selalu berarti mengembalikan kawasan menjadi hutan tanpa aktivitas masyarakat. Di Desa Sungai Besar, Kabupaten Ketapang, upaya pemulihan dilakukan dengan pendekatan yang menggabungkan kepentingan ekologis dan ekonomi. Melalui sistem agroforestry, lahan garapan masyarakat yang terdampak kebakaran mulai ditanami berbagai jenis pohon produktif untuk membangun kembali tutupan vegetasi sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat di masa mendatang. Kegiatan restorasi hutan desa ini dirancang melalui tiga pendekatan, yaitu agroforestry, restorasi intensif, dan Assisted Natural Regeneration (ANR) atau regenerasi alami berbantuan. Ketiga pendekatan tersebut disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan masyarakat agar proses pemulihan ekosistem dapat berjalan secara tepat dan berkelanjutan. Pada tahap pelaksanaan ini, penanaman difokuskan pada sistem agroforestry di lahan garapan masyarakat pascakebakaran dengan luas sekitar 3 hektare. Pendekatan ini mengombinasikan tanaman pokok dan tanaman sela dalam satu area, sehingga pemulihan vegetasi dapat berjalan beriringan dengan pengembangan tanaman bernilai ekonomi. Jenis tanaman yang dipilih meliputi petai, nangka, dan matoa sebagai tanaman pokok. Sementara itu, kopi, pinang, sirsak, dan jambu jamaika ditanam sebagai tanaman sela. Kombinasi tersebut diharapkan dapat mendukung pemulihan lahan sekaligus menjadi sumber manfaat ekonomi tambahan bagi masyarakat dalam jangka panjang.

Penanaman Dimulai dengan Perencanaan dan Penerapan SOP

Sebelum penanaman dilakukan, ketua tim restorasi terlebih dahulu memberikan pengarahan kepada seluruh peserta dengan membacakan Standar Operasional Prosedur (SOP) kegiatan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap anggota memahami tahapan teknis penanaman serta memperhatikan aspek keselamatan selama bekerja di lapangan. Setelah pengarahan, peserta bersama-sama mempersiapkan lahan. Prosesnya dimulai dengan menentukan arah larikan, membuat jalur tanam, dan memasang ajir sebagai penanda posisi lubang tanam. Selanjutnya, lubang dibuat pada titik-titik yang telah ditentukan, kemudian bibit didistribusikan sesuai dengan posisi ajir. Penanaman dilakukan dengan pengaturan jarak 5 x 5 meter untuk tanaman pokok dan 10 x 10 meter untuk tanaman sela. Pengaturan ini menjadi bagian dari perencanaan teknis agar penempatan tanaman mengikuti rancangan penanaman yang telah ditetapkan. Seluruh tahapan dikerjakan secara gotong royong oleh anggota Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungai Besar bersama masyarakat setempat, dengan pendampingan tim fasilitator. Keterlibatan masyarakat menjadi unsur penting dalam pelaksanaan kegiatan, sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab bersama terhadap upaya pemulihan hutan desa.

Memadukan Pemulihan Ekosistem dan Manfaat Ekonomi

Penerapan agroforestry menjadi salah satu pilihan untuk menjawab tantangan pemulihan lahan yang juga dimanfaatkan masyarakat. Melalui kombinasi tanaman pokok dan tanaman produktif, kegiatan ini diarahkan agar lahan yang sebelumnya terdampak kebakaran dapat kembali ditumbuhi vegetasi sekaligus memberikan peluang pemanfaatan hasil tanaman pada masa mendatang. Namun, keberhasilan restorasi tidak berhenti pada proses penanaman. Pemeliharaan dan pemantauan pertumbuhan tanaman juga menjadi bagian penting untuk memastikan bibit dapat berkembang dengan baik. Karena itu, keterlibatan LPHD dan masyarakat diharapkan terus berlanjut setelah kegiatan penanaman selesai. Kegiatan restorasi di Desa Sungai Besar menunjukkan bahwa pemulihan hutan dapat dibangun melalui kolaborasi antara masyarakat, LPHD, dan tim pendamping. Dengan menggabungkan pendekatan ekologis dan produktivitas lahan, upaya ini menjadi langkah untuk menjaga fungsi lingkungan sekaligus memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan hutan desa secara berkelanjutan. Melalui penanaman di lahan seluas sekitar 3 hektare ini, masyarakat Sungai Besar tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan bagi pulihnya hutan dan terbukanya peluang ekonomi di masa depan.

Related Stories

Tropenbos Indonesia © 2026

Sustainable Community Based Forest Stewardship and Livelihood Improvement in Ketapang District by Tropenbos Indonesia empowers local communities to protect forests while enhancing sustainable livelihoods, creating a future rooted in resilience, prosperity, and environmental balance.

Reframe your inbox

Subscribe to our website and never miss an update about project.

We care about your data in our privacy policy.