KUPS Perikanan
SUSTAINABLE LIVELIHOOD


Pengembangan usaha perhutanan sosial tidak hanya berfokus pada kelestarian hutan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui diversifikasi sumber penghidupan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Perikanan di Desa Pangkalan Telok, Sungai Besar, Sungai Pelang, dan Pematang Gadung. Melalui kegiatan budidaya ikan, pelatihan teknis, pembangunan demplot pembelajaran, serta dukungan dana bergulir dari LPHD dan Tropenbos Indonesia, KUPS didorong untuk mengembangkan usaha perikanan yang berkelanjutan sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah. Inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperluas peluang pasar, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa hutan.
Proses Kegiatan :
Pada tahun ketiga, pengembangan KUPS Perikanan diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelompok melalui diskusi, koordinasi, dan pelatihan pengolahan ikan. Salah satu kegiatan utama adalah pelatihan produk olahan ikan pada 12 November 2024 yang menghadirkan narasumber dengan pengalaman luas dalam mengembangkan usaha produk lokal. Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis olahan seperti abon, stik, nugget, hingga kerupuk berbahan dasar ikan lele maupun nila. Selain itu, narasumber berbagi praktik baik dalam mengolah bahan pangan lain seperti daun kelor dan tahu yang berhasil dipasarkan ke toko-toko, sehingga dapat menjadi inspirasi bagi anggota KUPS dalam meningkatkan nilai tambah hasil perikanan. Pendampingan ini kemudian dilanjutkan dengan pelatihan teknis budidaya ikan meliputi pembesaran, pemijahan, sistem intensif maupun semi-intensif, pembuatan pakan alternatif, serta manajemen pemasaran dan permodalan.
Sebagai langkah awal sebelum skala usaha besar, pembangunan demplot kolam budidaya dilaksanakan di empat desa binaan, yaitu Pangkalan Telok, Sungai Besar, Sungai Pelang, dan Pematang Gadung. Demplot ini berfungsi sebagai sarana pembelajaran teknis budidaya dengan pendekatan adaptif sesuai kondisi lokal. Misalnya, di Pangkalan Telok dipasang tiga keramba pada kolam tanah untuk budidaya ikan nila, sementara di Sungai Besar dibangun sembilan kolam terpal untuk pemeliharaan ikan lele. Desa Sungai Pelang menggunakan kombinasi kolam tanah dan kolam terpal dengan keramba, sedangkan Pematang Gadung sedang mempersiapkan kolam terpal bulat berbahan HDPE. Sistem bagi hasil antara LPHD dan KUPS ditetapkan 30:70, dengan LPHD sebagai pemilik modal bergulir dan KUPS sebagai pengelola kegiatan.
Hasil pelaksanaan menunjukkan capaian yang beragam. Di Sungai Besar, KUPS Air Payau telah melaksanakan panen perdana ikan lele, meskipun hasilnya masih di bawah standar ukuran konsumsi dan harga jual relatif rendah. Di Desa Pangkalan Telok, KUPS Teluk Betuah berhasil melakukan panen perdana pada Juni 2025 dengan hasil 16,5 kg ikan nila berukuran 150–200 gram/ekor, meski belum mampu memenuhi seluruh permintaan pasar. Sebaliknya, KUPS Makmur Jaya di Desa Sungai Pelang mengalami kegagalan budidaya akibat rendahnya tingkat kelangsungan hidup ikan. Faktor penyebabnya meliputi asal-usul benih yang tidak jelas, tidak adanya adaptasi saat penebaran benih, serta kondisi kualitas air kolam dengan pH rendah yang tidak sesuai untuk budidaya nila. Hal ini menunjukkan pentingnya penerapan SOP budidaya yang ketat dan pemilihan lokasi kolam yang tepat.
Sementara itu, KUPS Harapan Bersama di Desa Pematang Gadung masih dalam tahap pengembangan dengan fokus pada monitoring pertumbuhan ikan lele. Hasil pemantauan menunjukkan kondisi air yang mendukung dengan keberadaan alga hijau sebagai indikator kualitas lingkungan yang baik, meski terdapat permasalahan kehilangan ikan hingga 640 ekor dari total 3.400 ekor yang ditebar. Pemeriksaan pH kolam menunjukkan kondisi normal, namun sekitar 10% ikan terdeteksi mengalami luka fisik. Pertumbuhan ikan lele juga masih bervariasi dengan ukuran 6–17 cm dan berat 1–35 gram. Dengan demikian, kegiatan perikanan di KUPS Harapan Bersama masih perlu penguatan teknis dalam manajemen kolam, pencegahan penyakit, dan pengawasan intensif untuk menekan tingkat kematian ikan.
Kegiatan
Target Pelaksanaan
Pembangunan kolam yang memiliki dua fungsi, yaitu untuk akuakultur (budidaya ikan) dan irigasi (pengairan untuk pertanian)
Q1
Dukungan untuk bahan pakan ikan, peralatan, dan penyimpanan
Q1
Dukungan modal untuk membeli benih ikan dan sayuran
Q2
Dukungan untuk manajemen kesehatan (sanitasi kolam, pengendalian air)
Q2
Pangkalan Telok Q3
Dukungan untuk kios ikan di pasar sekitar
Q4
Tabel 2 Deskripsi demplot budidaya perikanan oleh KUPS pada masing-masing LPHD
Keterangan
Pangkalan Telok
Sungai Besar
Sungai Pelang
Pematang Gadung
Jenis Kolam, jumlah kolam dan ukuran
Tahap 1 :
Kolam tanah dengan 3 waring keramba ukuran 3x4 m
Rencana tahap 2 :
3 Kolam keramba apung dengan ukuran 3x4 m di Sungai Pawan
Tahap 1:
9 Kolam Terpal dengan bukuran 2x4 m
Rencana Tahap 2 : 1 Kolam bulat HDPE D3 m
3 kolam tanah/parit dengan 3 waring keramba ukuran 3x4
Tahap 1
1 Kolam tanah dengan keramba dan
1 kolam terpal ukuran 4x6 m dengan rangka kayu
Tahap 2 :
Kolam tanah ukuran 3x12 m dengan 2 waring keramba ukuran 3x6 m
2 kolam bulat HDPE dengan Diamater 3 m dengan rangka besi wiremesh
Jenis Ikan, dan jumlah ikan yang ditebar
Tahap 1:
Nila sebanyak 3000 ekor
Tahap 1
Lele sebanyak 4.500 ekor
Tahap 2 rencana Betok/ Pepuyu
Tahap 1: dikelola KUPS :
Nila 4500 : Kolam tanah: 2500; Kolam terpal: 2000
Tahap 2 dikelola kelompok Bapak Ismail : 2000
Lele : 3.400 ekor
Persentase hidup ikan
80 %
98 %
Tahap 1 :
Kolam Tanah: 4 %, Kolam Terpal: 70 %
Tahap 2 :
100 %, usia 3 minggu
98 %, terdapat gangguan keamanan,
ikan hilang 700 ekor
Lokasi
Hutan Desa
Lahan Ketua KUPS
Lahan Ketua KUPS (kolam tanah) dan Lahan Koordinator Usaha (Kolam terpal)
Lahan Ketahanan pangan desa
Kantor LPHD Pematang Gadung, kemudian dipindahkan ke lahan anggota KUPS
Pemanenan
1 Juni sd 29 Juli : 10 kali panen dengan harga jual Rp 40.000/kg dengan ukuran ikan 170-300 gr. Total Penjualan Rp 3.304.000
20 Mei 2025 : 158 kg , Rp 3.476.000
18 Juni 2025 : 72 kg, Rp 1.584.000
Harga jual Rp 22.000/kg
Belum Panen
1 kali pemanenan harga jual 25.000/ kg.
21 kg, Rp 525.000
Kendala dan Tantangan :
a) Desa Sungai Besar
· Bibit ikan yang terlalu kecil walaupun harganya murah namun biaya pakan cukup tinggi.
· Akses pemasaran yang terbatas mengakibatkan ikan hanya dijual kepada peraih lokal dengan harga yang rendah.
§ Perlu memastikan Lokasi Pembangunan kolam memiliki akses air yang cukup
b) Desa Pangkalan Telok
· Ikan yang dipelihara dalam kondisi air mengalir lebih cepat panen.
· Perlu dilakukan penyesuaian antara bibit ikan yang dibeli dengan ukuran pakan.
§ Pakan sebaiknya dibeli bertahan tiap bulan karena masa kadaluarsa pakan cukup pendek.
c) Desa Sungai Pelang
· Perlunya pengecekan kondisi kolam dan perlakuan kolam mengikuti SOP sebelum penaburan bibit.
· Perlu dilakukan adaptasi bibit ikan sebelum ikan ditabur.
· Khusus untuk kolam terpal dengan luasan kecil perlu dipastikan pasukan oksigen dalam kolam terpenuhi. Ikan tidak nafsu makan saan kadar oksigen rendah, perlu dibantu dengan aerator
d) Desa Pematang Gadung
· Teknik pengemasan ikan pada saat penjualan. Ikan lele diminati dalam kondisi hidup. Perlu container dalam pengiriman, dan harus dipastikan ikan mendapatkan oksigen yang cukup sehingga tidak perlu ditutup.
· SOP penggantian air yang tidak diikuti mengakibatkan kematian ikan cukup banyak
Kesimpulan/Solusi Pemecahan :
Kegiatan pengembangan KUPS Perikanan di empat desa telah memberikan pembelajaran penting bagi masyarakat desa hutan dalam budidaya ikan, mulai dari persiapan kolam, penaburan benih, pemberian pakan, hingga pengolahan produk ikan. Setiap desa menunjukkan capaian yang berbeda: Desa Pangkalan Telok mulai berhasil dengan panen ikan nila, Desa Sungai Besar berhasil panen lele meski ukuran masih kecil, Desa Sungai Pelang mengalami kegagalan akibat manajemen kolam dan kualitas benih yang rendah, sementara Desa Pematang Gadung masih dalam tahap uji coba dengan hasil yang cukup menjanjikan. Melalui pendampingan, pelatihan, serta skema dana bergulir antara LPHD dan KUPS, kegiatan ini tidak hanya mendukung peningkatan kapasitas teknis, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui produk olahan ikan. Secara keseluruhan, KUPS Perikanan berpotensi menjadi usaha produktif berkelanjutan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan sumber daya alam secara lestari.
