Dari Lahan Pasir Menjadi Hutan Kembali, Sungai Pelang Uji Tiga Metode Penanaman
FOREST RESTORATION


Melalui demplot reklamasi di Hutan Desa Sungai Pelang, LPHD bersama Tropenbos Indonesia menguji tiga perlakuan penanaman untuk mengetahui metode yang paling sesuai bagi lahan bekas tambang yang ekstrem dan miskin unsur hara.
Ketapang, Kalimantan Barat – Memulihkan lahan bekas pertambangan emas tanpa izin (PETI) bukan perkara mudah. Kondisi tanah yang didominasi pasir dan miskin unsur hara menjadi tantangan bagi tumbuhnya kembali vegetasi. Untuk mencari pendekatan yang tepat, Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungai Pelang bersama Tropenbos Indonesia melakukan uji coba demplot reklamasi pada 11 Desember 2025 di kawasan Hutan Desa Sungai Pelang, KM 22. Kegiatan ini melibatkan 10 orang, terdiri atas tujuh laki-laki dan tiga perempuan, termasuk anggota LPHD Sungai Pelang dan tim patroli. Sebanyak 120 bibit dari 12 jenis tanaman ditanam sebagai bagian dari uji coba untuk mengetahui jenis tanaman yang mampu beradaptasi dan tumbuh pada kondisi lahan bekas tambang. Dua belas jenis tanaman yang diuji meliputi rambutan, salam, jengkol, kopi, cempedak, jambu jamaika, sirsak, nangka, pulai, pempasir, bintangor, dan balangiran. Setiap jenis ditanam sebanyak 10 batang sehingga seluruhnya berjumlah 120 bibit.
Tiga Perlakuan untuk Menguji Pertumbuhan Bibit
Tidak hanya menguji jenis tanaman, kegiatan ini juga membandingkan tiga perlakuan penanaman, yaitu tanpa kompos, menggunakan kompos, dan menggunakan kompos blok. Setiap bibit diberi kode sesuai perlakuannya agar pertumbuhan masing-masing tanaman dapat dikenali dan dipantau. Perbandingan tersebut menjadi bagian penting dari uji coba. Dengan kondisi lahan yang ekstrem, penambahan bahan organik melalui kompos maupun kompos blok diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif yang perlu diuji untuk mendukung pertumbuhan bibit. Melalui pencatatan dan pengamatan secara berkala, tim dapat membandingkan respons setiap jenis tanaman terhadap perlakuan yang diberikan. Hasil pemantauan nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kombinasi jenis tanaman dan perlakuan yang menunjukkan pertumbuhan paling baik.
Monitoring Menjadi Kunci Keberhasilan Reklamasi
Penanaman bukan menjadi akhir dari proses reklamasi. Tahap berikutnya adalah monitoring pertumbuhan untuk melihat kemampuan bibit bertahan hidup dan berkembang di lokasi penanaman. Data hasil monitoring akan menjadi dasar untuk menilai efektivitas setiap perlakuan. Dengan demikian, pendekatan reklamasi tidak hanya didasarkan pada jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga pada hasil pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman dalam kondisi lapangan yang sebenarnya. Uji coba demplot ini menjadi langkah awal dalam mencari metode pemulihan lahan bekas PETI yang lebih sesuai dengan karakteristik lingkungan Hutan Desa Sungai Pelang. Pembelajaran dari kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi upaya reklamasi berikutnya, sekaligus memperkuat peran LPHD dan tim patroli dalam menjaga serta memulihkan kawasan hutan desa.
Related Stories
Tropenbos Indonesia © 2026
Sustainable Community Based Forest Stewardship and Livelihood Improvement in Ketapang District by Tropenbos Indonesia empowers local communities to protect forests while enhancing sustainable livelihoods, creating a future rooted in resilience, prosperity, and environmental balance.
Reframe your inbox
Subscribe to our website and never miss an update about project.
We care about your data in our privacy policy.
