silver fish on white round plate

Belajar dari Kolam, Bangun Peluang: Perjalanan KUPS Perikanan di Empat Desa Ketapang

SUSTAINABLE LIVELIHOOD

Irdan Muzakki

2/28/20265 min baca

Pengembangan usaha perhutanan sosial tidak hanya berfokus pada kelestarian hutan, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui diversifikasi sumber penghidupan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Perikanan di Desa Pangkalan Telok, Sungai Besar, Sungai Pelang, dan Pematang Gadung. Melalui kegiatan budidaya ikan, pelatihan teknis, pembangunan demplot pembelajaran, serta dukungan dana bergulir dari LPHD dan Tropenbos Indonesia, KUPS didorong untuk mengembangkan usaha perikanan yang berkelanjutan sekaligus menghasilkan produk bernilai tambah. Inisiatif ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperluas peluang pasar, serta menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat desa hutan.

Ketapang, Kalimantan Barat - Mengembangkan usaha ekonomi di sekitar kawasan hutan tidak selalu harus bergantung pada hasil hutan. Budidaya perikanan menjadi salah satu alternatif sumber penghidupan yang dapat dikembangkan masyarakat desa melalui pemanfaatan sumber daya dan potensi lokal. Melalui usaha ini, masyarakat tidak hanya berpeluang memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga dapat membangun kegiatan ekonomi produktif yang dikelola secara berkelompok. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Perikanan di empat desa dampingan, yaitu Pangkalan Telok, Sungai Besar, Sungai Pelang, dan Pematang Gadung, Kabupaten Ketapang. Dengan dukungan Tropenbos Indonesia dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), kelompok didorong untuk meningkatkan keterampilan budidaya, mengembangkan sarana produksi, serta memperkuat pengelolaan usaha dan pemasaran hasil perikanan. Pengembangan KUPS Perikanan tidak hanya berfokus pada produksi ikan konsumsi. Kelompok juga diperkenalkan pada pengolahan hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah, seperti abon, stik, nugget, dan kerupuk berbahan dasar ikan lele maupun nila.

Tingkatkan Keterampilan dari Budidaya hingga Pengolahan Ikan

Penguatan kapasitas KUPS Perikanan dilakukan melalui diskusi, koordinasi, dan pelatihan teknis. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah pelatihan pengolahan produk ikan pada 12 November 2024. Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan pada berbagai peluang diversifikasi produk berbahan dasar ikan, sekaligus mendapatkan inspirasi dari pengalaman pengembangan produk pangan lokal lainnya yang telah berhasil dipasarkan. Pendampingan kemudian diperluas ke aspek teknis budidaya, meliputi pembesaran dan pemijahan ikan, sistem budidaya intensif maupun semi-intensif, pembuatan pakan alternatif, serta manajemen pemasaran dan permodalan. Pengetahuan ini menjadi bekal bagi kelompok untuk mengelola usaha secara lebih terencana, mulai dari persiapan kolam hingga pemasaran hasil panen. Sebagai sarana pembelajaran, demplot budidaya dibangun di masing-masing desa dengan menyesuaikan kondisi setempat. Di Pangkalan Telok, budidaya ikan nila dilakukan menggunakan tiga keramba pada kolam tanah. Sungai Besar mengembangkan sembilan kolam terpal untuk budidaya lele, sedangkan Sungai Pelang menggunakan kombinasi kolam tanah dan kolam terpal dengan keramba. Sementara itu, Pematang Gadung mengembangkan budidaya lele melalui kolam terpal dan kolam berbahan HDPE. Untuk mendukung permodalan, diterapkan skema dana bergulir dengan pembagian hasil 30 persen untuk LPHD dan 70 persen untuk KUPS. Dalam skema ini, LPHD berperan sebagai penyedia modal bergulir, sedangkan KUPS bertanggung jawab mengelola kegiatan usaha.

Panen Perdana Jadi Langkah Awal Pengembangan Usaha

Hasil pengembangan budidaya di empat desa menunjukkan capaian yang beragam. Beberapa kelompok telah berhasil melakukan panen, sementara kelompok lainnya masih menghadapi tantangan teknis yang membutuhkan perbaikan dalam pengelolaan kolam dan pemeliharaan ikan. Di Desa Pangkalan Telok, KUPS Teluk Betuah berhasil melakukan panen ikan nila pada 1 Juni hingga 29 Juli 2025. Dalam periode tersebut, kelompok melaksanakan 10 kali panen dengan total penjualan mencapai Rp3.304.000. Ikan yang dipanen memiliki ukuran sekitar 170–300 gram per ekor dan dijual dengan harga Rp40.000 per kilogram. Capaian ini menjadi perkembangan positif bagi kelompok, meskipun hasil produksi belum sepenuhnya mampu memenuhi permintaan pasar. Sementara itu, KUPS Air Payau di Desa Sungai Besar juga telah melaksanakan panen ikan lele. Panen pada 20 Mei 2025 menghasilkan 158 kilogram dengan nilai penjualan Rp3.476.000. Panen berikutnya pada 18 Juni 2025 menghasilkan 72 kilogram dengan nilai penjualan Rp1.584.000. Ikan dijual dengan harga Rp22.000 per kilogram. Meski telah menghasilkan panen, kelompok masih menghadapi tantangan karena ukuran ikan belum sepenuhnya mencapai standar konsumsi sehingga harga jual relatif rendah. Berbeda dengan kedua desa tersebut, KUPS Makmur Jaya di Desa Sungai Pelang menghadapi kendala dalam keberhasilan budidaya. Tingkat kelangsungan hidup ikan pada kolam tanah tercatat sekitar 4 persen, sedangkan pada kolam terpal sekitar 70 persen. Permasalahan ini berkaitan dengan kualitas benih, proses adaptasi sebelum penebaran, serta kondisi air kolam yang memiliki tingkat keasaman rendah dan kurang sesuai untuk budidaya ikan nila. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi kelompok mengenai perlunya pemeriksaan kondisi kolam, penerapan SOP sebelum penebaran benih, serta proses adaptasi ikan terhadap lingkungan baru. Pada kolam terpal berukuran kecil, ketersediaan oksigen juga perlu diperhatikan, termasuk melalui penggunaan aerator apabila diperlukan. Adapun KUPS Harapan Bersama di Desa Pematang Gadung masih berada dalam tahap pengembangan budidaya lele. Dari total 3.400 ekor benih yang ditebar, pemantauan mencatat kehilangan sekitar 700 ekor akibat gangguan keamanan. Pertumbuhan ikan juga masih bervariasi, dengan panjang sekitar 6–17 sentimeter dan berat 1–35 gram. Selain itu, sekitar 10 persen ikan terpantau mengalami luka fisik. Hasil pemantauan menunjukkan kondisi pH air masih dalam keadaan normal dan terdapat alga hijau di kolam. Meski demikian, kelompok masih perlu memperkuat manajemen kolam, pengawasan, pencegahan penyakit, serta penerapan SOP penggantian air untuk mengurangi risiko kematian ikan.

Belajar dari Tantangan, Perbaiki Pengelolaan Budidaya

Pengalaman setiap KUPS menunjukkan bahwa keberhasilan usaha perikanan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan kolam dan jumlah benih yang ditebar. Kualitas benih, kondisi air, kecukupan oksigen, manajemen pakan, hingga akses pemasaran turut memengaruhi hasil produksi. Di Sungai Besar, penggunaan benih berukuran kecil dengan harga lebih murah menjadi tantangan karena membutuhkan waktu pemeliharaan dan biaya pakan yang lebih tinggi. Keterbatasan akses pasar juga membuat hasil panen bergantung pada pembeli lokal dengan harga relatif rendah. Karena itu, pemilihan lokasi kolam dengan ketersediaan air yang memadai serta pengembangan jaringan pemasaran menjadi hal yang perlu diperhatikan. Di Pangkalan Telok, pengalaman budidaya menunjukkan bahwa kondisi air yang mengalir dapat mendukung percepatan panen. Namun, kelompok tetap perlu menyesuaikan ukuran benih dengan jenis dan ukuran pakan yang digunakan. Pengadaan pakan secara bertahap juga diperlukan untuk menghindari penyimpanan terlalu lama karena masa kedaluwarsa pakan relatif pendek. Sementara itu, pembelajaran dari Sungai Pelang dan Pematang Gadung menegaskan pentingnya penerapan SOP secara konsisten. Pemeriksaan kualitas air, adaptasi benih, pengaturan oksigen, sanitasi kolam, dan pengawasan selama pemeliharaan menjadi bagian penting untuk menjaga tingkat kelangsungan hidup ikan. Aspek pemasaran juga perlu mendapat perhatian. Di Pematang Gadung, ikan lele diminati dalam kondisi hidup sehingga diperlukan sarana pengangkutan yang memadai, seperti wadah khusus dengan pasokan oksigen yang cukup. Perbaikan penanganan pascapanen menjadi salah satu upaya untuk menjaga kualitas ikan hingga sampai kepada pembeli.

Membangun Usaha Perikanan yang Berkelanjutan

Pengembangan KUPS Perikanan di empat desa memberikan pengalaman sekaligus pembelajaran bagi masyarakat dalam membangun usaha produktif berbasis potensi lokal. Setiap kelompok memiliki kondisi dan capaian yang berbeda, tetapi seluruhnya menghadapi kebutuhan yang sama, yaitu penguatan keterampilan teknis, pengelolaan modal, pengembangan pasar, dan pendampingan usaha secara berkelanjutan. Ke depan, pengembangan usaha juga diarahkan pada pembangunan kolam yang dapat memiliki dua fungsi, yaitu untuk budidaya ikan dan irigasi pertanian. Dukungan bahan pakan, peralatan, penyimpanan, modal pembelian benih, serta pengelolaan kesehatan kolam menjadi bagian dari rencana penguatan usaha. Pengembangan kios ikan di pasar sekitar juga menjadi salah satu peluang untuk memperluas akses pemasaran hasil budidaya. Melalui pendampingan dan skema dana bergulir antara LPHD dan KUPS, Tropenbos Indonesia mendorong agar kelompok tidak hanya mampu menjalankan kegiatan budidaya, tetapi juga mengembangkan usaha yang lebih mandiri dan memiliki nilai ekonomi. Pengalaman empat desa ini memperlihatkan bahwa pengembangan perhutanan sosial dapat membuka beragam pilihan sumber penghidupan bagi masyarakat. Dengan perbaikan teknis, penguatan kelembagaan, dan akses pasar yang lebih baik, usaha perikanan berpotensi menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat sekaligus bagian dari pengelolaan desa hutan yang berkelanjutan.

Related Stories

Tropenbos Indonesia © 2026

Sustainable Community Based Forest Stewardship and Livelihood Improvement in Ketapang District by Tropenbos Indonesia empowers local communities to protect forests while enhancing sustainable livelihoods, creating a future rooted in resilience, prosperity, and environmental balance.

Reframe your inbox

Subscribe to our website and never miss an update about project.

We care about your data in our privacy policy.